Sabtu, 22 Februari 2014

Demikian

Ragumu adalah sakitku
Diammu adalah bimbangku
Raga yang rindu akan jumpa
Hati yang tak tersentuh
Kering
Demikian ujung rasa ini
... Demikian ...

Jumat, 14 Februari 2014

No tittle

Jika memang ini yang harus saya terima
Jika memang ini yang membuatmu lega
Aku terima dendammu
Aku terima balasanmu
Tak kan merubah rasaku
Tak kan merubah asaku
Sampai kamu bilang TIDAK

Rabu, 12 Februari 2014

Percaya

Dalam sepiku yang tak terungkap
Dalam inginku yang tak terucap
Dalam belenggu kebisuan
Derita yang makin kian terpojok
Nadi cinta yang berdenyut kacau
Karna amarah
Karna kecewa
Karna kebodohanku

Bergidik dalam kekosongan
Yang makin dalam dan dingin
Beringsut makin takut
Kemanakah tautan hati ini membuyar
Dalam angankah?
Atau dalam inginku?

Menyelami udara tak semudah berenang dalam air
Terkadang goreasan lukapun tak terhirau
Hingga membusuk
Kemudian kering karna debu
Dilema yang tak berujung
Kemudian hanya tinggal satu hal saja
Percaya
Ya ...
Aku percaya

Sabtu, 08 Februari 2014

Kita

Ketika hanya setengah2 mencerna kata
Ketika kalimat demi kalimat hanya tinggal sepotong sepotong kata
Dengan beribu makna
Yang terbayang hanya ketakutan
Akan hilangnya takdir yang begitu agung mempersatukan hati
Akan kecurigaan isyarat alam
Yang justru kutahu itu nyata
Bukan impian kosong
Bukan pula bualan masa kini

Ketika saling membelakangi
Ketika makna pengertian menjadi saling menuntut
Bukan lagi mengharap
Inilah memang yang harus dijalani
Dilalui
Dengan teguh
Dengan rasa percaya yang tak pernah berubah
Rona cinta yang tak pernah pudar
Oleh keegoisan
Oleh kemunafikan

Inikah aku
Inilah kamu
Hidup kita

Tabir ... itu

Cinta ini
Rasa ini
Sungguh matiku
Selalu membutuhkanmu

Entah dengan apa
Entah sampai kapan
Rasaku kan selalu tertutup tabir
Itu...

Selasa, 04 Februari 2014

Lantunan kecewaku

Sesak sudah dada ini menahan amarah
Menahan kesakitan yang begitu tak terbendung
Dalam mendung dan badai
Dalam luka yang tak pernah nampak
Oleh siapapun
Atau apapun
Bahkan oleh rasaku
Oleh pikirku
Kesakitan yang hanya mengiris
Luka yang selalu tertutupi akan pengharapan
Simpul demi simpul kurajut
Karna tali pengharapan ini pernah putus
Rapuh
Dan tentu saja mudah pupus

Kecewa ini kian tembus
Bukan kau
Hati ini begitu lama begitu kian rapuh
Makin kau buat rapuh
Lantunan kecewaku tak tersampaikan dengan takdirnya
Tapi lantunan itu kian menjadikan kisah ini semakin remuk dan terpuruk

... 19.29